Yuk Jadi Minoritas

Selama ini kaki kanan dan kiri kita begitu harmonis bekerja saling bahu-membahu untuk menjalankan tubuh kita kemana saja. Demikian pula dengan kedua tangan kanan dan kiri kita selalu bekerja berbarengan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Mata kita pun juga demikian yang sebelah kanan dan mata kiri pun melaksanakan fungsinya dengan proporsional. Serupa dengan mouse komputer. Baik klik kiri maupun klik kanan, sama-sama bermanfaat sesuai dengan tujuan penggunaannya. Lantas, bagaimana dengan kedua belahan otak kanan (OKA) dan otak kiri (OKI) kita?   Diberdayakan kah OKA kita? Ataukah kita telah begitu nyaman dengan OKI? Adilkah kita terhadap pemberian Allah SWT yang maha dahsyat itu?

Jika diperhatikan di dunia pendidikan kita selama ini nampaknya terlalu ‘nyaman’ pada pemberdayaan OKI saja. Betapa tidak, selama 20 tahun lebih penulis mengenyam pendidikan di bangku sekolah, paling-paling yang dapat dikatakan pembelajaran dengan nuansa OKA hanyalah di TK, selebihnya mulai dari SD terasa sedikit demi sedikit lunturlah semangat OKAnya. Masuk ke jenjang SMP dan SMA semakin membawa penulis ke ‘lingkaran’ OKI. Apalagi sistem perkuliahan di bangku kuliah selama kurang lebih lima tahun terasa sangat ‘OKI sentris’.

Penulis justru mendapatkan nuansa OKA ketika terjun langsung ke dunia pendidikan setelah selesai kuliah.  Dengan mempraktekkan pembelajaran ala ‘Quantum Learning-Teaching’nya Bobi de Potter hampir di setiap pembelajaran penulis merasa inilah salah satu strategi yang seharusnya di manfaatkan oleh seluruh institusi pendidikan di Indonesia. Dengan memanfaatkan unsur-unsur OKA seperti imajinasi, humor, warna, gambar, simbol, musik, permainan, cerita, visual, empati, intuisi, keramahtamahan, syukur, dan  pemaknaan hidup termasuk dunia TIK dan ciri khas otak kanan lainnya idealnya dapat meningkatkan kualitas KBM diberbagai tingkatan institusi pendidikan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa orientasi otak kanan antara lain kuadran kanan, pengarang lagu, seniman, pengusaha, enterpreunership, agent of change dll ternyata mereka adalah kaum minoritas!!! Jumlah mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang biasa (baca: Otak Kiri).

Belajar dari orang-orang sukses seperti Ary Ginanjar Agustian ‘ESQ’, Ust.Yusuf Mansyur’Sedekah’, Rangga Umara ‘Pecel Lele lela’, Mas Mono ‘Ayam Bakar’, Bill Gates ‘Miscrosoft’, Steve Jobs ‘Apple-Ipad 3’, termasuk para pemimpin negara-negara di dunia ini adalah kaum minoritas yang sebagian besar karakter mereka bernuansa OKA. Lalu di bidang pendidikan-guru kita semisal  Ibu Herfen Suryati, Estu Pitarto, Nura Uma Annisa, Om Jay, Agus Sampurno, Gora Winastwan, dll mereka adalah guru-guru minoritas atau pilihan diantara jutaan guru di Indonesia yang masih ‘nyaman di Zona Kirinya’. Termasuk Pengelola GURARU ini dan guru-guru yang tergabung di dalamnya  adalah kaum minoritas yang bertujuan mulia untuk meng”IT Lteracy”kan guru-guru di Indonesia (ini ciri khas OKA).

Mirisnya, alur pikiran golongan minoritas yang sangat spasial, intuitif, difus (menyebar), dan lateral (tidak runtut), ini, jelas-jelas dianggap tidak nyambung dengan dengan alur pikiran golongan mayoritas. Kesannya, terlarang! Padahal OKA itu penting. Super penting malah!

Ary Ginanjar dalam ESQ-nya berkata, “Mulailah dengan otak kanan.” Kultur Indonesia, China, Islam, dan Nasrani akrab dengan serentetan istilah sebelah kanan yang seluruhnya identik dengan kebaikan, contohnya ‚tangan kanan‘, ‘langkah kanan‘ , ‘golongan kanan’,  dan ‘sebelah kanan’. Orang padang bilang, ‘langkah suok’. Tidak mau ketinggalan burung garuda dalam pada Pancasila pun menoleh ke kanan, bukannya ke kiri atau lurus kedepan. Jarum jam pun bergerak ke kanan. Malah dalam bahasa inggris kebetulan kata ‘kanan’ dan kata ‘benar’ sama-sama diterjemahkan menjadi ‘right’.

Dan peganglah baik-baik kutipan religius yang satu ini, „ mulailah dengan yang kanan“. Yuk kita jadi minoritas!!!

Artikel ini sebagian diambil dari “13 Wasiat terlarang”nya Ippho Santosa. Semoga bermanfaat!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: