Siswa Digital, Guru Dijitak!

Seiring perubahan zaman yang berbarengan dengan perkembangan teknologi generasi muda saat ini seolah mendapatkan berbagai kemudahan diberbagai hal termasuk di bidang pendidikan. Para siswa kita saat ini menjadi tidak gaptek dan bahkan beberapa diantara mereka ada yang mampu melakukan kreasi dan inovasi yang sangat fenomenal di dunia teknologi maupun pendidikan. Padahal kalau bicara pendidikan salah satu unsur yang seharusnya berperan penting adalah sosok guru.

Namun, jika kita sempat menyaksikan tayangan di salah satu TV swasta nasional di sekitar bulan Februari 2011 seperti apa yang tertuang di artikel bertajuk “Lima Bocah Pamer Teknologi di ITB” yang ditulis Iskandar Zulkarnaen di Kompas.com maka kita sebagai guru seharusnya merasa gembira dan bangga sekaligus ‘tersindir’ karena tingkah para ‘Siswa Digital’ tersebut telah memberikan contoh yang luar biasa buat para anak-anak dan para guru di Indonesia.

Yang menjadi nilai plus buat mereka adalah kegigihan dan kemauan mereka untuk berkreasi, berinovasi, dan pemanfaatan otak kanan mereka sehingga lahirlah karya-karya hebat yang berguna bagi kehidupan manusia utamanya di bidang teknologi dan pendidikan. Mereka adalah Arrival Dwi Sentosa (13 tahun) dan Taufik Aditya Utama (18) dengan karyanya berupa Antivirus Artav, Muhammad Yahya Harlan (12) dengan saling sapa.com-nya, serta Fahma Waluya Rosmansyah (12) dan sang adik kecilnya Hania Pracika Rosmansyah (6) yang berprestasi di Ajang lomba software APICTA International 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia, Oktober 2010 bahkan kedua kakak-adik tersebut juga tercatat sebagai pembuat aplikasi Nokia termuda di dunia! Wow…!!!

Kalau kita perhatikan di sekolah masing-masing kemungkinan besar di antara para siswa kita cukup banyak yang diam-diam di rumah mereka suka ‘ngoprek’ software-software yang mereka kenal dari gurunya atau dari internet. Seperti yang penulis alami sendiri di sekolah ada beberapa siswa yang ternyata begitu luar biasa di dalam membuat file presentasi yang telah ditugaskan oleh gurunya. Dalam sebuah momen pembelajaran penulis seringkali mengambil gambar dalam bentuk foto maupun video bagaimana para siswa tersebut sangat terampil mengoperasikan laptop mereka dan bahkan yang membuat terbelalak penulis adalah kemampuan mereka menyajikan file presentasi memanfaatkan power point (Office 2010), Autoplay Media Studio, berbagai software pengolah foto dan video, serta software animasi lainnya begitu detail mereka kuasai. Alvin, Robby, Aldy, Lutfiah, Feby, Ivan dan Alanu menjadi beberapa wakil nama yang bisa penulis sebutkan disini sebagai para siswa yang bisa dikategorikan sebagai “Siswa Digital”. Dan mungkin di beberapa pelosok negeri ini begitu banyak Siswa Digital bertebaran di sekolah-sekolah di mana para Guraru mengabdi.

Kondisi sebaliknya jika kita masih ingat bagaimana beberapa pekan yang lalu telah berlangsung UKG Online (terlepas dari hasil nilai rata-rata UKG) yang telah membuka mata pendidikan di Indonesia sekaligus Guru merasa ‘Dijitak’ bahwa masih banyak guru yang jarang bersentuhan dengan komputer atau terkena TBC = Tidak Bisa Komputer atau ada yang mengartikan TBC Tek = Tertanam Benih-benih Cuek dengan Teknologi. Terlihat bagaimana banyak guru yang jangankan bersentuhan dengan software, memainkan klik kanan dan klik kiri pun mereka masih gagap. Seolah kita sebagai guru merasa “Dijitak” oleh keadaan untuk diingatkan bahwa guru harus terus update dan upgrade dengan kemajuan teknologi. Istilah ‘Dijitak’ barangkali setara dengan ‘Dijewer’, ‘Dicubit’, atau istilah-istilah lainnya yang mengartikan bahwa guru seharusnya merasa didorong terus kompetensinya untuk terus meningkat. Mungkin istilah-istilah tadi terdengar kasar dan kurang manusiawi bagi kita selaku guru, namun, alangkah lebih baik kita ambil sisi baiknya bahwa ada pesan moral yang kuat kepada kita sebagai guru untuk terus ‘berlari’ agar kita ‘Guru Dijitak’ tidak tertinggal oleh para ‘Siswa Digital’.

Majulah Guru-guru di Indonesia!!!

Untuk melihat video-videonya bisa dilihat dibawah ini:

 

 

 

 

 

Hal di atas terkait dengan artikel yang berjudul sebagai berikut:

1. Zon Versus OZoN

2. Yuk Jadi Minoritas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: